Showing posts with label Menjadi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Menjadi Indonesia. Show all posts

Tuesday, January 31, 2023

Manusia Indonesia

“Tanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain.”

Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar



Siapakah manusia Indonesia asli?    dalam menjawab hal tersebut perlu diturunkan beberapa pertanyaan agar memperjelas gambaran tentang Indonesia asli. 

1. Apa yang menjadikan Indonesia itu "INDONESIA''?

2. Torang semua basudara : Satu bangsa di tengah keramaian

3. Nasionalisme di Era Transnasionalisme, bagaiman bertahan?

4. Bagaimana Teknologi membentuk ulang kemanusiaan?

5. Nusantara, Tapak Perjalanan evolusi manusia?

6. Arsitektur sains berubah: Bagaimana Indonesia menghadapinya?


Rekontruksi Sejarah Indonesia:

- Perkiraan waktu kedatangan leluhur

- Gambaran migrasi

- Sejarah pembauran


Distribusi dan Hubungan dengan bahasa (700 lebih bahasa Daerah )

 Hal yang relevan mungkin adalah mengetahui tentang diri kita sendiri atau sebagai bagian dari Indonesia: 

Siapa aku? Darimana aku berasal?  Mengapa aku sebagai bagian dari populasi etnik tertentu berbeda dengan saudaraku di tempat lain?

Indonesia adalah negara Maritim yang memiliki lebih dari 700 bahasa dan merupakan kediaman bagi 500 populasietnik dengan budaya yang sangat beragam. Tingginya keragaman bahasa, etnik, dan budaya ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan mengenai asal usul manusia Indonesia. Selain pertanyaan di atas, ada lagi yang juga cukup menggelitik. Karena kita sangat beranekaragam tetapi juga memilki persamaan, apakah ada jejak pembauran?  Bagaimana pola persebaran manusia modern Indonesia?


Herawati Peneliti Genetika Molekul dalam mendefenisiskan Indonesia adalah sebagai berikut:

Sejarah hunian pertama Homo sapiens atau manusia modern di kepulauan Asia Tenggara sampai sekarang masih tetap menjadi menjadi topik diskusi yang hangat. Berbagai temuan arkeologi mulai dari rangka manusia lukisan batu yang ditemukan belakangan ini memberikan bukti bahwa Asia Tenggara khususnya kepulauan Nusantara dihuni oleh manusia modern sekitar 50-70 ribu tahun yang lalu. Dengan menggunakan tiga marka genetik, yaitu DNA mitokondria, kromosom Y dan autosom, kami dapat memberikan gambaran tahapan gelombang migrasi yang membentuk latar belakang genetik manusia Nusantara.


Menurut (Herawati Peneliti Genetika Molekul) DNA mitokondria dan kromosom Y telah memperlihatkan bahwa populasi di kepulauan Nusantara memiliki jejak genetika manusia dari gelombang pertama migrasi “Out of Africa” yang menyusuri jalur selatan sekitar 60 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, hipotesis model ‘Out of Taiwan” menerangkan bahwa penyebaran penutur Austronesia terjadi sekitar 5.000–7.000 tahun yang lalu ke arah selatan. Dua gelombang migrasi inilah yang pada awalnya dipercaya membentuk struktur populasi manusia Indonesia. Namun studi genetik lebih lanjut dengan DNA autosom dapat menemukan adanya gelombang migrasi lain baik masuk maupun keluar Indonesia misalnya yang datang dari daratan Asia langsung maupun migrasi modern jaman sejarah seperti dari India, Arab maupun Cina maupun Eropa.


Jawabannya dari berbagai pertanyaan diatas  akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Akhirnya Pemahaman tentang identitas Identitas ke-Indonesia-an terus akan diperbincangkan. 


Pendapat penulis setelah mengikuti kelas Young Progressive Academy Batch 2,  dengan narasumber Herawati Supolo-Sudoyo:

Tidak ada manusia yang paling manusia Indonesia. Indonesia adalah bagian dari cerita dunia yang tidak akan usai, dan jawaban siapakah Indonesia yang disebut "INDONESIA" akan terus perbah sesuai dengan peradaban manusia. 

Jadi, seberapa Indonesia anda? menurut saya hendaknya Indonesia adalah orang-orang yang bersikap menerima semua perbedaan yang ada. Karena bagaimana pun kita Indonesia tetap memiliki kesamaan terbentuk akibat adaptasi dan kesamaan linkungkan. Karena kita "Indonesia adalah Teater dinamis perkembangan manusia dan migarasi".


#Menjadi Indonesia #Pemuda Indonesia #Merdeka dalam berpikir #Nasionalisme #Identitas Indonesia #Bangga jadi Indonesia #Afrelan

Tuesday, January 24, 2023

Pancasila sebagai titik temu

Globalisasi membuat Indonesia menjadi rumah bagi semua suku bangsa. 

Namun Globalisasi juga membuat negara bangsa lain tertarik masuk ke Indonesia dengan berbagai pengaruhnya seperti K-POP, Budaya Barat maupun budaya timur di berbagai bidang. Globalisasi juga membangkitkan identitas-identitas lokal yang sangat beragam.  Oleh sebab itu kita semua harus berusaha mencari titik temu.

Bagaimana masyarakat Indonesia yang multikur mencari titik temu (mencari titik temu dalam keberangaman) ?

Memperluas konektivitas dan inklusivitas terkristal dalam formula "Bhineka Tunggal Ika". Membangun kebersamaan melalui ikatan moral komunitas (Shared values). 

Dalam pendekatan Bhineka Tunggal Ika Indonesia dapat hidup dalam perbedaan. Dalam fakta kemanusiaan walaupun kita berbeda-beda,  namun dalam doktrin "bhineka" kita sama-sama manusia, kita selalu mencari kesamaan, seperti bahasa Indonesia, dan mencari ruang-ruang agar selalu tertaut seperti dalam kegiatan karnaval budaya, gotong royong dalam berbagai kejadian bahkan ketika ada bencana sekalipun. 

Inti Moral Publik (Jonatan Haidt : 2012), 

ada 6 nilai inti moral publik yaitu:

1. Care : Peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama.

2. Fairness : Rasa keadilan dan kepantasan

3. Liberty : Kebebasan dngan menunjung tinggi hak-hak dasar manusia

4. Loyalty : kesetiaan pada institusi ,tradisi dan konsensus bersama

5. Authority : Respek terhadap otoritas yang disepati bersama. 

6. Sanctity : Menghormati nilai-nilai yang dipandang paling ""suci" (utama). 

Bagaimana cara membuat bermartabat?

-Meningkatkan kerohanian : oleh sebab itu biarkan orang lain beribadah, tidak perlu dihalang-halangi. 

-Pribadi yang baik akan tumbuh dalam lingkungan kolektif yang baik, oleh sebab itu, jadilah warga negara yang mampu mencipatkan lingkungan kolektif yang baik dan berdampak positif di sekitarnya. 

-Manusia punya unsur-unsur Universal. Manusia sama-sama punya darah yang merah, ketika terluka merasa sakit, dan lain-lain. Oleh sebab itu, apapun perbedaan kita kita ini tetap sama-sama manusia secara universal. 


Catatan Afrelan dalam kelas ke-3 via Zoom Meeting "Young Progresive Academy Batch 2"  

dipaparkan oleh  Bpk. Yudi Latif

5 DAFTAR PINJOL LEGAL MUDAH CAIR 2025