Dianterin kata dalam bentuk kata pengantar.
Kopi ke-1
Kopi adalah minuman sejuta makna. Kopi menjadi minuman yang penuh dengan cerita, canda, bahkan jadi teman bercerita. Jika kau sendiri dan tidak punya teman untuk bercerita, berbicaralah dengan secangkir kopi, mungkin kopi akan menjawab ceritamu dengan rasa pahit, manis, gurih, aroma buah, aroma tanah, atau bahkan rasa baru yang pertama kali kamu coba dalam hidupmu, dimana itu kau rasakan dari secangkir kopi. Maka tidak salah, jika aku memproklamasikan bahwa kopi itu penuh nuansa misteri dan keindahan, begitulah kopi ibarat secangkir cerita hidup kita.
Kopi ke-2
Kopi berawal dari perjalan seorang pengembala kambing bernama kaldi. Ini ceritanya Kaldi lagi berada di dataran tinggi Ethiopia. Kopi itu dimakan kambingnya kaldi, dan si kambing pun menjadi energik. Nah, jika dari awal kopi ditemukan aja telah dapat membuat hewan menjadi energik, apalagi kita manusia. Kopi yang ditemukan pada abad ke-9 ini sampai dijuluki buah "kiriman dari surga". Kopi terlalu luas untuk diulas, sampai kadang tidak tahu harus mulai dari mana, dari sudut padang mana aku harus mulai menceritakan kopi ini. Atau biarkan aku yang bercerita, dan kopi yang mendegarkan atau kami saling bercerita.
Oh iya, aku adalah seorang barista. Info yang sedikit penting bahwa menjadi barista adalah pekerjaan atau mungkin hobby kali ya, kata orang-orang sih hobby yang dibayar. Menyenangkan tiap hari meracik minuman dan dicampur kopi atau bisa juga pure 100% kopi. Ratusan orang dan transaksi setiap hari ku lakukan. Melihat orang tersenyum dan menjadi semangat kembali dengan tegukan kopi pertamanya adalah kenikmatan tersendiri yang bisa ku lihat tiap hari.
Kopi ke-3
Malam ini ku menulis lanjutan tentang secangkir cerita tanpa kopi. Tepat di atas meja bundar tempat biasa aku makan. Ruangan berukuran 3 kali 3 meter ini adalah saksi bisu saat aku harus berkomplentasi dalam membantu menulis apapun . Malam ini hujan turun dengan lebat, airnya berjatuhan terlalu deras tanpa terkendali. Tanah dan jalanan sampe tak sanggup menyerap, akhirnya dimuntahkan sebagian. Banyak jalanan tergenang dan tidak sedikit aktivitas warga yang terganggu. Bahkan kata para ahli 2045 yang harusnya Indonesia Emas, malah kota ini diramalkan akan tenggelam. Apakah ini nanti akan jadi kota yang hilang di masa depan?
Soal aktivitas terganggu, aku juga terganggu sebagai barista full time, dan ojol part time. Aku terpaksa memutar jalan untuk menjalanan pengantaran pesanan barang melalui aplikasi hijau yang ada not besar di tengah-tengahnya. Pada waktu lampau saat musim hujan juga, aku pernah terjatuh di jalan raya saat genangan air begitu dalam, sedikit bagian kaki terluka, tapi orderan masuk harus aku selesaikan sebagai bentuk tanggung jawab. Begitulah terganggu nya perjalanan hidupku. Mungkin banyak juga orang di luar sana pasti terganggu. Warung-warung sulit dapat pelanggan, begitu juga masyarakat sulit beraktivitas.
Kopi ke-4
Dini hari pulang kerja, aku ngobrol sama Abdo. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kota ini. Warna kulitnya sawo matang, nga putih, nga hitam, tinggi 174 cm, dengan bobot badan 74 kg-an, rambut lurus, hidung pesek, mata coklat hitam. Seperti manusia pada umumnya. Saat ini dia berpikir dan bertanya kenapa manusia nga punya sayap? kan kalau punya sayap bisa terbang. Dengan sayap mudah kemana-mana, nga perlu kendaraaan, yang pasti nga kena macet. Sebuah imajianasi liar, tapi masuk akal. Mungkin pemikiran itu timbul karena kota ini sedang dilanda banjir. Ya kisah ini masih dalam nuansa kebanjiran. Tapi aku berpikir jika manusia punya sayap, kaki jadinya kurang fungsi, karena sayap lebih digunakan kemanapun. Manusia bisa obesitas, karena jarang gerak jalan. Terus manusia jadi mirip ibu peri, atau malaikat pada cerita dongeng. Nanti akan banyak perubahan cerita tentang dongeng, atau banyak romantisme masa lalu yang harus dirubah jika manusia punya sayap. Atau ada kemungkinan juga jika manusia punya sayap, dan malas terbang, jadi mirip ayam. punya sayap tapi tampaknya hanya sebagai pelengkap, dan kebanyakan hidupnya dilewati tetap dengan berjalan dan mengais-gais tanah.
Kopi ke-5
Kosong, hening, tenang, stress, lemas, binggung, lelah, sakit, pusing, itu semuanya terlalu berat. Sulit menggambarkan isi pikiran dan keadaan saat ini. Semua terlalu gelap, suram seperti masa depan hilang, walaupun masa depan belum tentu jadi milik ku. Hai, perkenalkan aku Gusto yang saat ini sedang menulis dalam kegelisahan hebat. Ternyata benar, tidak akan ada yang peduli padamu, jika bukan dirimu sendiri. Jadi, Kegelisahan ini adalah masalah ku sendiri yang harus ku hadapi sendiri, dan harus tuntas.
Terbiasa menghadapi masalah besar, membuatku harus kuat menghadapi masalah apapun yang hadir. Kalian nga tahu kan masalahnya, tapi kalau dipikir-pikir ini hampir seperti masalah manusia-manusia rakyat jelata yang sudah menginjakkan usia sepereampat abadnya. Pada usia emasnya yang harusnya bersinar, namun ternyata banyak juga manusia yang harus redup dan menerima kenyataan bahwa inilah hidup. KEJAM. Tapi di sisi lain ruang pikir hidupku, perjuangan ini belum selesai, harus tetap kuat dan siap membelah semua tantangan yang datang silih berganti.
Kopi ke-6
Kembali dengan segelas kopi pada malam, otak ku kembali bangun dan tersadar tentang pemaknaan hidup. Aku pun mencari podcast dokter ahli bedah syaraf tentang otak ku ini. Kenapa aku ingin bahagia, tetapi sangat sulit untuk tercapai. Ternyata memang otak kita di desain untuk bertahan hidup, bukan untuk bahagia. Sehingga kalau di luar sana kita sering melihat gossiping, bullying, lying, huru-hara, korupsi, mencuri dan kelakuan manusia lainnya. Yang memberikan batasan pada perilaku kita sebagai human adalah moralitas atau pun hukum yang disepakati bersama. Moralitas ini pun masih subjektif, moralitas universal berbasis kemanusian, moral berbasis agama, moral berbasis biologi, dan basis-basis lainnya.
Kopi ke-7
Kembali ke malam hari dalam suatu rumah di kota Banjarmasin, yang berukuran 20 kali 30 meter. rumah ini memiliki 3 kamar, dan 2 kamar mandi. Sedanngkan aku tidur di ruang tamu, karrna lebih lebar, dan memang rumah ini hanya tempat ku untuk singggah tidur. Di dalam rumah ini ada 5 orang, aku dan 4 orang mahasiswa salah satu perguruaan tinggi Islam di Banjarmasin ini. Ada Abdo seseorang yang telah di deskripsikan pada kopi ke-4, selanjutnya ada Ryan. Pria 160-an cm, bobot badan sekitar 53 kg, rambut belah dua seperti pangkas cemek. Ada perdebatan tentang halal dan haram. Anehnya perdebatan ini mengelitik karena ke-2 manusia debat kusir tanpa data dan fakta. Mereka terus beropini dalam debat, yaitu berawal dari pertanyaan Ryan tentang bika ambon, apakah halah dan haram? Terus di jawab abdo, emang bika ambon ada lemak babi? Anehnya tiba-tiba diskusi beralih lagi ke coklat memiliki lemak babi. Debat ini menghabiskan waktu lebih dari 60 menit.